"Baik bagi warga Yogya asli maupun pendatang harus bisa memahami bahwa kemajemukan harus menjadi kekuatan, bukan kelemahan yang bisa dicabik-cabik," ujar Sultan dalam konferensi pers di Balai Kota Yogyakarta, Kamis (20/12/2018).
Pernyataan Sultan ini menyusul insiden pemotongan nisan salib saat prosesi pemakaman warga Katolik di Makam Jambon Yogyakarta, Senin (17/12) lalu. Atas insiden ini Sultan juga sudah meminta maaf secara terbuka dan menyesalkan tindakan tersebut.
Sultan berharap kelak insiden pemotongan nisan salib tak terulang lagi. Menurutnya, agar kasus ini tak terulang diperlukan wisdom atau kebijaksanaan dalam menyikapi realita perbedaan yang ada di masyarakat.
"Kita perlu wisdom, perlu bijak, berpikir jauh. Ini pengalaman yang baik bagi kita semua di dalam menjaga toleransi. Tapi tetap Yogyakarta punya komitmen bagaimana toleransi itu tetap menjadi bagian yang harus kita pertahankan," tegasnya.
"Karena kita, bangsa ini diproklamasikan 17 Agustus 45 dasarnya adalah kebersamaan dari semua suku, agama yang ada di republik ini. Menyatakan diri merdeka sebagai bangsa Indonesia, yang dimulai dari Sumpah Pemuda," ungkapnya.
"Sehingga Pancasila pun bunyinya persatuan Indonesia, bukan kesatuan Indonesia. Berarti persatuan itu mesti lebih dari satu, kan gitu. Jadi komitmen ini kita pegang, karena Yogya sudah menjadi bagian dari Republik Indonesia," tutupnya.
Equityworld Futures
Equityworld
Tidak ada komentar:
Posting Komentar